Hukum dan Agama


KEKERASAN ANTAR UMAT BERAGAMA AGAMA

(KASUS CIKEUSIK)

Oleh    : Richo Handoko Putra

Abstraksi

“Kekerasan terhadap antar pemeluk agama kembali menjadi topik pembicaraan terhangat di masyarakat Indonesia. Hangatnya wacana ini tidak dapat dilepaskan dari banyaknya aliran-aliran agama islam yang muncul beberapa tahun ini, juga pecahnya kerukunan antar umat beragama. Sejalan dengan itu pemeluk agama mayoritas mulai melakukan tindak kekerasan yang tidak menunjukkan sikap toleransi. Penyerbuan, perusakan dan aksi kekerasan terhadap aliran Ahmadiyah, Cikeusik baru-baru ini sangat membuat prihatin. Kekerasan itu mendapat kecaman dari sebagian besar orang-orang, baik dari masyarakat biasa dan dari kalangan ajaran islam sendiri. Dalam sebagian pendapat kekerasan terhadap agama tidak ada sisi baiknya apapun alasannya. Disisi lain, massa yang berpendapat (ideology) bahwa penyerangan itu merupakan keharusan agar aliran-aliran tidak akan timbul semena-mena.Sangat ironi jika kita melihat kondisi ini, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang plurarisme, bermacam-macam suku dan budaya, agama, juga kebebasan HAM yang dangat di junjung tinggi oleh konstitusi. Lalu sebagai warga Negara yang baik, kita harus berbuat apa? Tetapi yang lebih penting menjaga kedamaian antar umat beragama demi kebaikan bersama adalah hal yang utama.”

I. PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plurarisme, bermacam-macam ras, suku, agama ada didalam masyarakat Negara ini. Dengan status Negara berkembang, maka pemerintah kadang tidak peka terhadap permasalahan-permasalahan yang menyangkut SARA ini, pemerintah lebih mengutamakan, bagaimana membuat kebijakan pemerintahan dalam mensejahterakan kehidupan rakyat dalam bidan pendidikan dan ekonami. Maka dari itu hal ini semua sudah pasti tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang menyangkut SARA.

Menyangkut kasus kekeraasan antar umat beragama yang terjadi di Cikeusik, memang sangat memprihatinkan. Banyak yang terluka dari kejadian ini, dan tidak ada pihak yang di untungkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan semua pihak untuk menjauhi kekerasan dalam menyelesaikan persoalan antarkomunitas dan antarumat beragama. Menurut Presiden, penggunaan kekerasan berarti mengingkari nilai, norma, dan kaidah negara hukum serta negara yang menjunjung tinggi multikultural dan multireligi. “Mari kita cegah dan jauhi tindakan kekerasan dalam mengatasi permasalahan (antarkomunitas dan antarumat beragama).[1]

Kebebasan memeluk dan menjalankan agama sebenarnya sudah diatur dalam UUD 1945 dalam pasal 29 ayat 2, yaitu : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Lalu dari penjelasan diatas apa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anat umat beragama di Indonesia dan bagaimana cara penanggulangannya?

II. PEMBAHASAN

Peristiwa anarkis tersebut mencerminkan kerapuhan anak bangsa yang kehilangan identitas dan karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Denpasar Ambrosius Ardin, Jumat (11/2) sebagai bangsa pluralis seharusnya segala perbedaan menjadi kekayaan dan kebanggaan bangsa dan bukan sebaliknya, justru menjadi permusuhan bagi sesama anak bangsa.[2]

Sebagai bangsa yang pluraris dan patuh terhadap hukum, memang kekerasan dengan alasan apapun tidak dibenarkan didalam bangsa ini, lalu apa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Padahal agama manapun tidak mengajarkan kekerasan dengan alasan apapun.Dalam pandangan kaum sosiolog, agama lebih lanjut dibuktikan memiliki fungsi yang amat penting. Dalam hubungan ini, paling kurang ada enam fungsi agama bagi kehidupan masyarakat. [3]

Pertama, agama dapat memenuhi kebutuhan –kebutuhan tertentu dari manusia yang tidak dapat dipenuhi oleh lainnya. Seorang Sarjana Ekonomi Amerika pernah menulis buku dengan judul yang amat provokatif, yaitu Janji-janji untuk kehidupan manusia. Menurutnya, janji-janji itu adalah kredit. Fakta menunjukkan bahwa sirkulasi sumber kehidupan dari suatu sistem ekonomi tergantung dari apakah manusia satu sama lain dapat saling menaruh kepercayaan bahwa mereka akan memenuhi kewajiban-kewajiban bersama dibidang keuangan. Keharusan orang-orang menepati janji-janji tersebut diperintahkan dalam ajaran agama.

Kedua, agama dapat berperan memaksa orang untuk menepati janji-janjinya. Diketahui bahwa beberapa jenis persetujuan bersama atau consensus mengenai kewajiban-kewajiban yang sangat penting ini, begitu juga mengenai adanya kekuatan yang memaksa orang-orang dan pihak-pihak yang bersangkutan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut, minimal diperlukan untuk mempertahankan ketertiban masyarakat.

Ketiga, bahwa agama dapat membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial tersebut dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap-sikap para anggota masyarakat dan menetapkan kewajiban-kewajiban sosial mereka. Dalam peranan ini agama telah membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang terpadu dan utuh.

Keempat, agama berperan membantu merumuskan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh manusia dan diperlukan untuk menyatukan pandangannya.

Kelima, agama pada umumnya menerangkan fakta-fakta bahwa nilai-nilai yang ada hampir semua masyarakat bukan sekedar nilai yang bercampur aduk tetapi membentuk tingkatan (hirarki). Dalam hirarki ini agama nilai-nilai yang tertinggi. Nilai-nilai yang tertinggi, berikut implikasinya dalam bentuk tingkah laku, memperoleh arti dalam agama.

Keenam, agama juga telah tampil sebagai yang memberikan standar tingkah laku, yaitu berupa keharusan-keharusan yang ideal yang membentuk nilai-nilai sosial yang selanjutnya disebut sebagai norma-norma sosial.

Dari teori ini, agama sangat berperan penting untuk memberikan pemahaman nilai, norma, tingkah laku memeluk agamanya untuk memberikan tatanan pola pikir yang harmonis.

Disisi lain sudah tentu pihak pemerintah yang berkewajiban menangani pencegahan dan penanganan kekerasan antar umat beragama berperan penting, dalam wawancara yang dilakukan oleh detikcom dengan Bambang Widodo Umar, pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan dosen Ilmu Kepolisian Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) di Jakarta, Sabtu (12/2/2011).[4]

Aksi kekerasan sudah lama sering terjadi, kenapa polisi tak pernah bisa mengungkap pelaku utamanya?

Sebenarnya ada dua hal yang menjadi kelemahaan polisi sejak lama, yaitu lemahnya manajemen operasional dan koordinasi. Pertama masalah strategi, sejak reformasi ini sampai sekarang, Indonesia belum memiliki regulasi atau Undang-undang (UU) yang mengatur Sistem Keamanan Nasional.

Ini salah satu faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penanganan kasus-kasus seperti ini. Dalam kontek manajemen operasional itu yang bertanggung jawab dalam setiap operasi adalah pimpinan kesatuan, apakah itu Kapolres, Kapolda atau Kapolri. Itu melihat sumber tantangan atau ancaman yang dihadapi.

Ini artinya koordinasi antar fungsi kepolisian lemah sekali. Jadi dua hal ini, manajemen operasional dan koordinasi antar fungsi lemah. Ini yang perlu diperbaiki oleh pihak kepolisian.

Faktor lain yang paling penting adalah masyarakat itu sendiri, Auguste Comte (1798-1858), bapak ilmu sosiologi, membedakan kedua perspektif. Menurutnya, cara berpikir religius hendak menemukan jawaban yang absolut. Ini tentu berbeda dengan cara berpikir positif (ilmiah) yang menyadari kerelatifan kemampuan manusia. Orang modern tidak berpikir absolut. Melihat perkembangan peradaban umat manusia dewasa ini, dikotomi ilmu-agama, modern-religius, relatif-absolut seperti ini agaknya tidak relevan lagi menjawab tantangan zaman.[5]

Pemahaman masyarakat yang seperti inilah yang sering kali membuat masyarakat salah dalam menerapkan keyakinan mereka terhadap para pemeluk agama lain. Para pemeluk agama tertentu sudah jelas menganggap bahwa agama merekalah yang paling benar, dan agama lain adalah salah disini muncul fanatisme yang sangat kuat. Tetapi mereka lupa akan menjaga norma-norma kesopanan, dan saling menghormati antar pemeluk umat beragama.

III. KESIMPULAN

Dengan pemaparan diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa faktor terjadinya kekerasan terhadap antar umat beragam tersebut ada 2 hal :

1.      Pencegahan dan penanganan yang lemah dari pemerintah

2.      Pemahaman masyarakat terhadap agama yang sangat fanatic

Pemerintah cenderung tidak tegas dalam penanganan kasus-kasus kekerasan sebelumnya ketegasan pemerintah membubarkan organisasi yang terlibat peristiwa kekerasan serta kepolisian tidak menunjukkan sikap yang konsisten. Tindakan anarkis bermotif agama pada dasarnya adalah kegagalan individu dan kelompok tertentu dalam menafsir dan menerjemahkan ajaran agamanya. Bahwa pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk berbuat kekerasan. Perbedaan itu adalah biasa, tetapi bagaimana kita bersikap intelek dan menghormati perbedaan itu sehingga menjadikan antar umat beragama yang saling hidup harmonis.

Oleh sebab itu, hendaknya pemerintah bertindak tegas dalam pencegahan dan penanganan kasus-kasus kekeresan tersebut, sehingga tindakan preventif tersebut membuat rasa aman para pemeluk agam minoritas untuk menjalankan dan memeluk agamanya masing-masing. Masyarakat juga di tuntut untuk pintar, tidak mudah terpengaruh terhadap propokasi-propokasi buruk tentang hubungan umat beragama. Perbedaan itu pasti ada, tidak ada yang tahu siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi untuk membuat perbedaan itu menjadi suatu yang baik, harus dilakukan dengan cara yang baik pula. Karena jika berbicara agama adalah tentang tuhan, tidak bisa dijelaskan dengan logika. Maka dari itu, kekerasan bukan cara yang baik untuk memperbaiki keadaan.


[1] http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/category/13/ Diakses pada 18 Februari 2011, 19.00 WIB.

Published in: on February 21, 2011 at 09:26  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://richohandoko.wordpress.com/2011/02/21/hukum-dan-agama/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: