Lex Dura Sed Tamen Scripta

HUKUM ITU KEJAM..??   WAT WAAR IS.?

Oleh : Richo Handoko P

Lex Dura Sed Tamen Scripta – Hanya sebuah istilah hukum dari bahasa latin, yang tertulis tidak lebih dari lima kata. Namun, istilah ini cukup bermakna mendalam untuk dikaji. Tidak ada yang tahu pasti kapan dan dari mana istilah ini muncul dan dipopulerkan. Tetapi para pakar berpendapat bahwa istilah ini sudah ada pada zaman Romawi, tidak tahu pasti pada zaman kerajaan roma, republik roma, atau kekaisaran roma. Hanya saja jika kita liat munculnya istilah ini pada zaman romawi artinya istilah ini muncul sekitar 700an SM – 1453 M. Dalam banyak referensi juga tidak ada yang menyebutkan siapa pencetus  istilah ini, seperti adagium lain “Ubi Societas Ibi ius” tidak selalu dituliskan pencetusnya. Sungguhpun demikian, ungkapan-ungkapan yang nampak sederhana ini mungkin tidak dilontarkan oleh para visioner atau filosof handal. Saya juga berpikir bahwa, tidak penting untuk kita mencari tahu kapan dan darimana istilah itu muncul tetapi yang lebih penting kita perlu menulusuri apa yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Penting atau tidak penting kita bisa melihat kenyataan. Jika semua ini adalah hanya ungkapan biasa, maka tidak mungkin banyak para pakar hukum dan akademisi hukum mengindahkan ungkapan tersebut di dalam tulisan-tulisan mereka dan tetap dikenal sampai sekarang. Tidak bisa dipungkiri, mereka tidak beranggapan bahwa ungkapan yang sederhana ini tidak berpengaruh terhadap “Law Progress” yang terjadi saat ini.

Secara umum ungkapan ini berarti “Hukum itu kaku, namun itulah yang dituliskan undang-undang  yang harus dipahami dan dimengerti” .Terkesan ungkapan ini bersifat keras, dengan kata “Harus” memahami dan mengerti….

Ada keharusan kita untuk mau tidak mau mengikuti perintah dari ungkapan itu, tidak ada pilihan lain. Disini kita tidak perlu mengacu pada rincian ini, meskipun kata “Harus” mengandung isyarat adanya paksaan yang melarang kita untuk tidak memahami dan tidak mengerti. Perlu diperhatikan bahwa ungkapan itu berlaku pada hukum tertulis, bukan kebiasaan. Hukum tertulis secara singkat adalah aturan-aturan hukum yang di undangkan baik itu yang di kodifikasi atau tidak dikodifikasi. Artinya, hukum yang tidak dituliskan ke dalam undang-undang tidak termasuk dalam ungkapan ini.

Semua arti ungkapan itu adalah  makna umum yang terkandung didalamnya. Namun, bukan berarti hanya mengalir dan semua orang setuju  dengan makna yang terkandung  didalam istilah tersebut. Timbul dua perdebatan dari arti hukum tertulis bersifat keras bahkan lebih dari itu bersifat kejam. Sudah pasti kelompok orang yang pro dengan makna itu, dan yang kontra dengan hukum yang bersifat keras / kejam itu.

Pada perdebatan teoritis ini, timbul keraguan apakah memang benar bahwa hukum (yang tertulis) itu keras bahkan kejam ? Kelompok pro mengatakan bahwa  hukum (yang tertulis) keras bahkan kejam ketika adanya keharusan / kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Hukum sepertinya memaksakan kehendak agar orang-orang akan patuh terhadap apa yang dituliskannya. Tidak ada jalan lain selain mematuhi aturan itu agar mereka tidak dihukum karena perbuatan yang melawan, terlebih ketika mereka tetap tidak mematuhi aturan itu maka akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan itu. Walaupun mungkin aturan yang dituliskan tidak sesuai dengan ukuran kebahagiaan yang mereka dapatkan, tetapi mau tidak mau mereka harus mematuhi hukum itu. Kelompok kontra mengatakan bahwa hukum (yang tertulis) tidak kejam. Tetapi aturan memang harus bersifat memaksa karena kita memang membutuhkan aturan untuk menjalankan kehidupan. Begitu juga tentang hukuman, bahwa seseorang yang melanggar memang layak untuk diberi hukuman karena itu adalah konsekuensi dari apa yang mereka perbuat.

Pertama, keraguan itu muncul didalam kasus ini karena hukum seharusnya membuat orang-orang merasa nyaman akan aturan itu. Aturan itu mempunyai daya pikat kepuasan, kenyamanan jika mereka mematuhinya. Jika aturan yang akan dipatuhi itu sesuai dengan kepuasan masyarakat maka orang-orang akan mematuhinya tanpa terpaksa. Dalam Teorinya, Jeremy Bentham seorang ahli hukum di inggris berpendapat bahwa “Ukuran keadilan dalam sebuah Undang-undang itu ada pada kepuasan / kebahagiaan pada masyarakat” (The Greates Happines Principle). Tetapi disini kita akan menemui masalah baru, ketika seberapa besar dan bagaimana barometer /ukuran kepuasaan masyarakat tersebut terhadap aturan itu? yang sudah tentu didalam masyarakat terdapat individu-individu yang berbeda-beda.

Kedua, secara umum ruang lingkup aturan hukum dibuat untuk mengatur tingkah laku (apa yang seharusnya) individu / masyarakat dengan tujuan terciptanya kedamaian. Maka sudah tentu harus adanya unsur memaksa dalam aturan hukumnya, namun bukan berarti aturan itu kejam. Tetapi substansinya adalah untuk kebaikan bersama demi mencapai kedamaian.

Dengan demikian, Lex Dura Sed Tamen Scripta dapat kita simpulkan bahwa hukum memang bersifat kaku / keras, tetapi bukan berarti hukum itu kejam. Pada dasarnya hukum memang harus mempunyai daya mengikat dan daya paksa yang kuat agar masyarakat akan mematuhinya. Perintah undang-undang yang mengharuskan kita berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu harus dilaksanakan demi kedamaian bersama, ada sifat memaksa (keras) karena menghindari “sifat acuh” terhadap hukum untuk kebaikan bersama. Tidak ada aturan hukum yang sempurna, kebingungan dan kebutuhan akan hukum-hukum baru yang sejalan dengan globalisasi pasti akan muncul. Karena tidak ada orang yang menguasai dan mengetahui hukum secara utuh.

Published in: on February 15, 2011 at 04:29  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://richohandoko.wordpress.com/2011/02/15/lex-dura-sed-tamen-scripta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Aku baru denger malah istilah ini, tapi bukanya hukum itu ga cuma tertulis, ada hukum kebiasaan.
    kalo buat hukum kebiasaan istilahnya ada g y?? hehehe

    • Itu hanya adagium, semacam pepatah hukum.. jadi ga heran kalo kamu jarang dengar, karena dalam banyak referensi istilah ini hanya sering dituliskan untuk pelengkap saja,, thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: