Kejahatan Plagiarisme

FAKTOR YANG MENYEBABKAN

SESEORANG MELAKUKAN PLAGIAT  (TINJAUAN KRIMINOLOGI)

Oleh : RICHO HANDOKO P


I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Dalam bahasa Inggris, mahasiswa biasa disebut dengan “student”. Di Negara lain mungkin mereka tidak memiliki istilah khusus untuk menyebut mahasiswa layaknya orang Indonesia. Di Indonesia Mahasiswa merupakan golongan yang terhormat karena merupakan generasi penerus yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan. Apalagi dari pengertian tersebut, beberapa aktifis menyebutkan mahasiswa sebagai “golongan terpilih” atau “pemuda elite” karena mereka adalah pemuda yang terpelajar. Ini berarti bahwa masyarakat memberi tempat khusus kepada mahasiswa, dan dianggap sebagai pemuda harapan bangsa yang diharapkan menjadi panutan kalangan orang-orang yang tidak berpendidikan secara formal. Artinya, sebagai guru di kalangan masyarakat tertentu.

Sebagai mahasiswa, tentu tugas utamanya adalah belajar. Belajar bisa di dalam kelas, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan berbagai hal lain terkait disiplin ilmu yang pelajari. Dalam belajar pun juga harus memiliki etika,…

tidak boleh sembarangan dalam proses. Etika harus diterapkan dengan benar agar ke depannya kita tidak rugi sendiri.[1]

Disinilah kadang ditemui beberapa mahasiswa yang tidak menggunakan tugas utama mereka dengan benar dan jujur.  Plagiat dalam belajar, yang biasanya ketika mahasiswa diberi tugas dari dosen untuk mengerjakan tugas kuliah seperti membuat karya tulis, makalah, artikel, analisis kasus tertentu dan lainnya. Mungkin mereka berpikir bahwa plagiat atau biasa disebut dengan “copas” (Copy Paste) lebih menghemat waktu dan tidak perlu banyak berpikir harus membuat tugas bermalam-malam atau berhari-hari. Tinggal buka “google.com” search kata kunci tugas yang akan dibuat dan copas. Semua selesai dengan hanya mengganti judul atau menambahkan beberapa kata-kata yang dianggap perlu.

Dalam jenjang studi sebelumnya, seorang mahasiswa mungkin diijinkan atau bahkan didorong untuk menggunakan karya orang lain tanpa memberikan pengakuan terhadap karya orang itu. Namun, dalam kebudayaan akademik, ada tradisi untuk menghormati hak pemilikan terhadap gagasan; yaitu bahwa gagasan dianggap sebagai properti intelektual. Karena itu, memberikan pengakuan terhadap gagasan orang lain yang diambil sebagai rujukan oleh mahasiswa adalah sangat penting. Setiap saat mahasiswa menggunakan kata-kata dari penulis lain, mahasiswa harus menghargai penulis itu dengan cara menyebutkan karya yang perkataannya sudah diambil (baik dengan teknik pengutipan formal maupun informal). Bahkan, setiap kali mahasiswa menggunakan ide dari penulis lain, atau melakukan parafrase terhadap gagasan penulis lain, mahasiswa harus menghargai penulis tersebut. Jika tidak, maka mahasiswa dapat dikatakan telah melakukan kejahatan akademik yang serius, yaitu plagiarisme.

Plagiarisme adalah mencuri gagasan, kata-kata, kalimat atau hasil penelitian orang lain dan menyajikannya seolah-olah sebagai karya sendiri. Plagiariasme dan berbagai bentuk kecurangan akademik dilarang di banyak universitas karena alasan sederhana bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan tidak boleh dirusak, dan bagi banyak ilmuwan kebenaran inilah yang membuat seluruh pekerjaan ilmuwan menjadi berharga.[2]

Masalah inilah yang menjadi sasaran peneliti untuk ditelusuri faktor-faktor penyebab plagiarism tersebut dalam perspektif kriminologi, karena hal ini berhubungan. Bahkan menurut “W.A Bonger memandang kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya”.[3]

Jika dilihat dari pernyataan tersebut diatas, artinya mahasiswa yang melakukan plagiat atau copas sebenarnya mempunyai sifat melawan hukum, jelas dikatakan bahwa plagiat dikatakan melakukan kejahatan akademik yang serius. Jika dilihat dari prakteknya yang tak terkendali dikalangan mahasiswa, benar jika dikatakan serius. Karena hal ini secara tidak langsung mereka tidak menggunakan pemikiran-pemikiran meraka secara maksimal.

Membuat tugas artinya latihan untuk pemahaman bagi mahasiswa bahwa seberapa paham mereka terhadap kuliah yang sudah berjalan. Dan kesempatan untuk mengembangkan pikiran-pikiran mereka. Tetapi hal ini tidak dilakukan oleh beberapa mahasiswa tertentu yang sudah berpikir bahwa Copas lebih efisien.

Selain faktor kebiasaan mereka yang sering melakukan plagiat, ada faktor-faktor lain yang sangat krusial yang menyebabkan hal ini terus menerus terjadi. Bahwa kadang beberapa dosen juga tidak terlalu memperhatikan hasil kerja mahasiswa dalam membuat tugas. Ditambah lagi, kalau pun beberapa mahasiswa yang ketahuan melakukan plagiat tidak diberi sanksi yang serius. Maka dari sana faktor-faktor itu sangat berpengaruh terhadap mereka.

Dilatarbelakangi oleh fenomena prilaku plagiat dikalangan akademis, dan plagiat termasuk kejahatan akademik yang serius maka penulis tertarik untuk meneliti Plagiarisme dalam perspektif “Kriminologi” dikalangan mahasiswa Fakultas Hukum UII.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka beberapa permasalahan dalam penelitian nini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.      Apa faktor penyebab mahasiswa melakukan plagiat dalam pembuatan tugas kuliah?

2.      Bagaimana bentuk sanksi jika mahasiswa melakukan plagiat dalam tugas kuliah?

3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini:

1.      Untuk mengetahui faktor penyebab mengapa mahasiswa melakukan praktek plagiat.

2.      Untuk mengetahui seperti apa bentuk sanksi yang diberikan kepada mahasiswa yang melakukan plagiat.

4. Kerangka Konseptual

a.       Kriminologi

Kriminologi dalam arti sempit adalah ilmu yang mempelajari kejahatan. Sedangkan dalam arti luas kriminolagi adalah ilmu yg mempelajari penology dan metode-metode yang berkaitan dengan kejahatan dengan tindakan-tindakan yang bersifat non-punitif.[4] Pengertian ini mengkususkan pada ilmu yang mempelajari kejahatan sebagai pokok penyelidikan. Secara tegas dapat dikatakan bahwa batasan kejahatan adalah tingkah laku manusia yang dapat dihukum berdasarkan hukum pidana.

Menurut Muhammad Mustofa, Kriminologi berasal dari kata crimen yang artinya kejahatan dan logos yang artinya ilmu, sehingga kriminologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kejahatan.[5] Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas yang menitik beratkan pada tindakan kejahatan.

Sedangkan menurut Manshur Zikri, Kriminologi, (criminology dalam bahasa Inggris, atau kriminologie dalam bahasa Jerman) secara bahasa berasal dari bahasa latin, yaitu kata ”crimen” dan ”logos”. Crimen berarti kejahatan, dan logos berarti ilmu. Dengan demikian kriminologi secara harafiah berarti ilmu yang mempelajari tentang penjahat. [6] Disini krimonologi memandang sesuatu kejahatan sebagai gejala sosial yang di pelajari secara sosiologis. Edwin Sutherland dalam karya klasiknya Principles of Criminology (1939:1): “Kriminologi adalah badan pengetahuan yang membahas kejahatan sebagai fenomena social”. Pengertian ini pun tidak berbeda dengan pengertian yang ke tiga yang memandang suatu kejahatan sebagai gejala sosial.

b.      Mahasiswa

Sarwono (1978) menyatakan bahwa  mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. Sedangkan menurut Knopfemacher (dalam Suwono, 1978) adalah merupakan insane-insan calon sarjana yang dalam keterlibatannyadengan perguruan tinggi ( yang makin menyatu dengan masyarakat), dididik dan di harapkan menjadi calon-clon intelektual.[7]

Dari pendapat di atas bias dijelaskan bahwa mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.

Mahasiswa sebagai pelaku utama dan agent of exchange dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif, kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa. Secara moril mahasiswa akan dituntut tangung jawab akademisnya dalam menghsilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan.

c.       Karya Ilmiah

Karya tulis ilmiah adalah suatu produk dari kegiatan ilmiah. Membicarakan produk ilmiah, pasti kita membayangkan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan temuan baru yang bersifat ilmiah, yaitu penelitian. Memang temuan ilmiah dilakukan melalu penelitian, namun tidak hanyapenelitian merupakan satu-satunya karya tulis ilmiah.[8]

d.       Plagiat

Pengertian Plagiat menurut kamus bahasa Indonesia adalah : Plagiat merupakan pengambilan karangan (pendapat, dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.[9]

Menurut Prof.Dr.Ir. Sardy. S, plagiat adalah tindak pengambilan, pencurian, dan “peminjaman” pendapat, ide, pemikiran, kata, kalimat, karangan orang  lain, dengan menjadikan sebagai milik sendiri[10]

Sedangkan pengertian plagiat dalam peraturan menteri pendidikan Republik Indonesia No 17 tahun tahun 2010 khususnya dalam BAB I Mengenai ketentuan Umum pasal 1 adalah “perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang di akui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menytakan sumber secara tepat dan memadai.

MACAM KARYA TULIS ILMIAH

1.      MAKALAH

Makalah, adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenaan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa.

2.      SKRIPSI

Skripsi, adalah karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka dan dipertahankan di depan sidang ujian (munaqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu (S1) untuk memperoleh gelar Sarjana.

3.      TESIS

Tesis, adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat program Strata Dua (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji guna memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkannya secara analisis kristis.

4.      DISERTASI

Disertasi  adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Strata Tiga (S3) yang dipertahankan di depan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analitis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan ilmu pengetahuan yang ditekuni oleh mahasiswa yang bersangkutan, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan yang berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah.

5.      ARTIKEL

Artikel merupakan: karya tulis atau karangan; karangan nonfiksi; karangan yang tak tentu panjangnya; karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur; sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya; wujud karangan berupa berita atau “karkhas” (Pranata 2002: 120).

6.      ESAI

Esai, adalah ekspresi tertulis dari opini penulisnya. Sebuah esai akan makin baik jika penulisnya dapat menggabungkan fakta dengan imajinasi, pengetahuan dengan perasaan, tanpa mengedepankan salah satunya. Tujuannya selalu sama, yaitu mengekspresikan opini, dengan kata lain semuanya akan menunjukkan sebuah opini pribadi (opini penulis) sebagai analisa akhir. Perbedaannya dengan tulisan yang lain, sebuah esai tidak hanya sekadar menunjukkan fakta atau menceritakan sebuah pengalaman; ia menyelipkan opini penulis di antara fakta-fakta dan pengalaman tersebut. Jadi intinya kita harus memiliki sebuah opini sebelum menulis esai.

7.      OPINI

Opini, adalah sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang nampaknya benar, valid atau mungkin yang ada dalam pikiran seseorang; apa yang dipikirkan seseorang; penilaian.

8.      FIKSI

Fiksi, satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting dsb adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah ‘kebenaran’ yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna. Para pendukung tulisan fiksi meliputi: novelis, cerpenis, dramawan dan kadang penyair pun sering dimasukkan ke dalam golongan ini.

5. Metode Penelitian yang Digunakan

Metode penelitian yang digunakan adalah metode pengumpulan data yang berhubungan dengan obyek penelitian yang dilakukan dengan cara interview atau wawancara kepada informan yang dipilih acak dari beberapa mahasiswa – mahasiswi di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan melakukan forum diskusi.

II. KERANGKA TEORI

Teori Kontrol Sosial

Pengertian teori kontrol sosial atau sosial control theory merujuk kepada pembahasan delikuensi dan kejahatan yang dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologis: antara lain struktur keluarga, pendidikan, dan kelompok dominan.[11]

Pemunculan teori kontrol sosial ini diakibatkan tiga ragam perkembangan dalam kriminologi. Ketiga ragam perkembangan dimaksud adalah: Pertama, adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik dan kembali kepada penyelidikan tentang tingkah laku kriminal. Kriminologi konserfativ (sebagaimana teori ini berpijak) kurang menyukai kriminologi baru atau new criminology dan hendak kembali kepada subyek semula, yaitu: penjahat. Kedua, munculnya studi tentang criminal justice sebagai suatu ilmu baru telah membawa pengaruh terhadap kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi ada sistem. Ketiga,teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik riset baru khususnya bagi tingkah laku anak/remaja, yakni selfreport survey.[12]

Perkembangan berikutnya, selama tahun 1950-an, beberapa teoritis telah mempergunakan pendekatan teori kontrol terhadap anak/remaja. Konsep-konsep tentang kepribadian dan sosialisasi sudah biasa dipergunakan di dalam penelitian-penelitian sosiologis tentang deviance. Pada tahun 1951, Albert J. Reiss telah menggabungkan konsep tentang kepribadian dan sosialisasi inidengan hasil penelitian dari aliran Chicago dan telah menghasilkan teori kontrol sosial; teori mana dikemudian hari telah memperoleh perhatian serius dari sejumlah pakar kriminologi. Reiss mengemukakan bahwa ada tiga komponen dari kontor sosial di dalam menjelaskan kenakalan anak/remaja.ketiga komponen tersebut adalah:

1.      Kurangnya kontrol internal yang wajar selama anak-anak;

2.      Hilangnya kontrol tersebut;

3.      Tidak adanya norma-norma sosial atau konflik antara norma-norma dimaksud.[13]

Reiss membedakan dua macam kontrol, yaitu: personal control dan sosial control. Yang dimaksud dengan personal control (internal cotrol) adalah kemampuan seseorang untuk menahan diri untuk tidak mencapai kebutuhannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sementara itu, yang dimaksud dengan sosial control atau kontrol eksternal adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga di masyarakat untuk melaksanakan norma-norma atau peraturan menjadi efektif.[14]

Ivan F. Nye (1958) telah mengemukakan teori sosial control tidak sebagai suatu penjelasan umum tentang kejahatan tetapi merupakan penjelasan bersifat kasuistis. Nye pada hakekatnya tidak menolak adanya unsur-unsur psikologis, disamping unsur subkultur dalam proses terjadinya antara hasil proses belajar dan kontrol sosial yang tidak efektif.[15]

Teori kontrol sosial pada asasnya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk amoral, atau setidak-tidaknya beberapa pertanyaan moral untuk beberapa orang adalah lebih penting dari pada untuk orang lain. Moralitas dan nilai-nilai susila merupakan variabel yang tersebar tidak merata diantara manusia. Bagaimana hubungannya dengan pergaulan hidup? Hirschi membedakan 4 elemen sebagai unsur pengikat:

1)         “Attachment” atau ikatan sepanjang seseorang memiliki hubungan erat dengan orang-orang tertentu dan mengambil alih norma-norma yang berlaku dengan kemungkinan terjadinya deviasi.

2)         “Commitment” atau keterkaitan dalam sub sistem konvensional. Seseorang yang memiliki akal sehat mempertimbangkan untung rugi dari perilaku konfirmistis. Sesekali dikaitkan dengan subsistem konvensional seperti sekolah, pekerjaan, organisasi di waktu senggang maka orang akan memperoleh hadiah, uang, pengakuan, status, bila semuanya berfungsi baik.

3)         “Involvement” atau berfungsi aktif dalam subsistem konvensional. Apabila orang makin aktif dalam berbagai organisasi konvensional, maka makin sedikit orang yang berlaku deviant.

4)         “Beliefs” atau percaya kepada nilai-nilai moral atau norma-norma dan nilai-nilai pergaulan hidup.[16]

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Wawancara:

Adnan 2007

Ø  Mengetahui apa itu plagiat

Ø  Pernah melakukan plagiat

Ø  Alasan melakukan plagiat adalah karena malas, mengejar tujuan dan target

Ø  Kebanyakan dosen tidak mengetahui ketika dia plagiat dalam menyelesaikan tugas kuliahnya

Ø  Tidak 100% dari tugasnya itu plagiat, hanya sekitar 30%

Ø  Dia melakukan plagiat ketika mengerjakan tugas yang dia tidak mengetahui atau tidak paham akan tugasnya.

Ø  Pada dasarnya dia menyesal melakukan plagiat karena dia merasa tidak ada penerapan ilmu dan tidak berkembang

Ø  Dia melakukan plagiat itu sejak duduk di Sekolah Dasar tetapi karena dia merasa tidak ada manfaat dari plagiat itu sendiri, maka mulai semester 4 di Perguruan Tinggi dia mulai berhenti melakukan plagiat

*Sasa, angkatan 2008, Fakultas Hukum UII. Usia 20 tahun, asal: yogyakarta

1.      Tau gak plagiat itu apa?

Ø  Tahu

2.      Pernah gak melakukan plagiat?

Ø  Pernah

3.      Sering gak melakukan plagiat tugas kuliah?

Ø  Sering si, tapi diubah-ubah dikit

4.      Apa alasan melakukan plagiat?

Ø  Udah mentok pikirannya, males ngetik juga

5.      Jadi semua tugas kulih kamu plagiat?

Ø  Nggak juga, kadang-kadang aja. Sebenernya kalau gak copy paste bisa, tapi kadang-kadang berhubung di sana (internet) sudah lengkap, ya saya copy paste aja.

6.      Tahu gak si sebenernya plagiat itu merugikan dan gak bikin kita kreatif?

Ø  Tau, tapi udah kebiasaan si.

7.      Pernah ketahuan dosen gak melakukan plagiat?

Ø  Belum, makanya nyampai sekarang masih tetep plagiat.

*UL, angkatan 2008, Fakultas Hukum UII. Usia: 20 tahun, asal: Purworejo

1.      Tau ap itu plagiat?

Ø  Hehehehe.. tau….

2.      Pernah plagiat gak?

Ø  Pernah

3.      Apa alasannya melakukan plagiat?

Ø  Ya karena lebih cepat, lebih mudah, tinggal copy paste aja, hehehe.. udah gitu kalo baca buku itu tebal.

4.      Apa dosennya itu gak tau?

Ø  Rata-rata dosen tidak memperhatikan, lagipula kebanyakan dosen memberikan kelonggaran pada mahasiswa nya dalam buat tugas si…

5.      Biasanya cari bahan tugas kuliah di mana aja?

Ø  Searching di google

6.      Kalau nglakuin plagiat dapet gak si ilmunya?

Ø  Sebenernya sadar si kalau gak ada manfaatnya, ilmu yang didapet kurang, tapi ya tetep aja nglakuin. Hehehe.. habisnya lebih cepet si.

*P, V, D, angkatan 2010 Fakultas Hukum UII. Usia 17 tahun

1.      Tau tentang plagiat gak?

Ø  Tau.

2.      Pernah gak nglakuin plagiat?

Ø  Pernah.

3.      Apa alasannya melakukan plagiat?

Ø  Lebih praktis, lebih cepat lagipula kebanyakan dosen ngasih kebebasan kepada mahasiswa terkait referensi dalam mengerjakan tugas, boleh dari internet, boleh dari buku. Tapi kalau beli buku kan mahal.

4.      Kenapa gak pinjam aja buku di perpus?

Ø  Kalau ngerjain tugas kan butuhnya banyak buku, lha kalau pinjam diperpus kan dibatasin, Cuma boleh pinjam 2 buku, udah gitu kalau terlambat ngembaliin didenda. Hehehe.

5.      Dapet gak si ilmunya kalau ngerjain tugas kuliah dengan plagiat?

Ø  Dapet si, kan gak 100% langsung copy paste, dibaca dulu, terus diedit-edit sebagian.

6.      Di mana biasanya cari bahan buat tugas?

Ø  searching di google

7.      dosen tau gak si kalo kalian plagiat?

Ø  Sebenanya dosen tau si, tapi gak ada sanksi dari kebanyakan dosen, jadi ya cuek aja tetep plagiat.

*Y.S, angkatan 2007 FH UII, Usia 21 tahun, asal Banten.

1. Tau plagiat nggak?

– Tau, plagiat itu menjiblak karya orang.

2. Jadi pernah melakukan plagiat?

– Pernah dikit, paling waktu buat tugas kuliah.

3. Apa anda sering melakukan plagiat dalam tugas kuliah?

– sering, tapi di edit- edit dikit lah..

4. Apa alasan anda melakukan plagiat dalam tugas kuliah?

– karena waktunya yang tidak cukup, ya pada intinya pengen cepat selesai.

5. Menurut anda lebih efisien palgiat atau baca buku?

– enakan plagiat karena mudah dan efisien.

6. Ada nggak manfaat plagiat dalam membuat tugas kuliah?

– ada, kitakan juga baca sebelum di copy paste jadi sama juga baca buku        kan.

7. Dimana biasanya cari bahan untuk tugas?

– cari di Google

8. Anda merasa rugi nggak ketika melakukan plagiat dalam tugas kuliah?

– nggak, karena tugas kita bisa cepat selesai, nggak terlalu banyak mikir       dan nggak buang waktu,..

9. Pernah ketuhuan dosen nggak kalo anda plagiat dalam tugas kuliah?

– yaa,. Ada yang taun ada juga yang nggak tau.

10. Sanksi apa yang diberikan dosen?

– paling disuruh buat tugas ulang.

11. Mau sampai kapan anda melakukan plagiat?

– sampai mati mungkin.

Pembahasan :

Pemunculan teori kontrol sosial ini diakibatkan tiga ragam perkembangan dalam kriminologi. Ketiga ragam perkembangan dimaksud adalah: Pertama, adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik dan kembali kepada penyelidikan tentang tingkah laku kriminal. Kriminologi konserfativ (sebagaimana teori ini berpijak) kurang menyukai kriminologi baru atau new criminology dan hendak kembali kepada subyek semula, yaitu: penjahat. Kedua, munculnya studi tentang criminal justice sebagai suatu ilmu baru telah membawa pengaruh terhadap kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi ada sistem. Ketiga,teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik riset baru khususnya bagi tingkah laku anak/remaja, yakni selfreport survey.

Reiss membedakan dua macam kontrol, yaitu: personal control dan sosial control. Yang dimaksud dengan personal control (internal cotrol) adalah kemampuan seseorang untuk menahan diri untuk tidak mencapai kebutuhannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sementara itu, yang dimaksud dengan sosial control atau kontrol eksternal adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga di masyarakat untuk melaksanakan norma-norma atau peraturan menjadi efektif.

Begitu pula dalam penyimpangan perilaku yang dilakukan dalam pencurian ide- ide atau palgiarisme, yang ditinjau menurut krimonologi sebagain ilmu yang mempelajari kejahatan sebagai pokok penyelidikan. Palgiarisme juga  telah mengakar dan sekaligus merambah pada banyak bidang, termasuk dalam dunia pendidikan. Akar permasalahan dari ‘pencurian ide’ ini sebetulnya sangat erat dengan gaya hidup, karena tidak mudah bagi seorang plagiator untuk melakukan plagiarisme tanpa dukungan lingkungan yang kondusif dan ketersediaan informasi mengenai kebutuhan plagiarisme itu sendiri.

Kenapa dikatakan sebagai gaya hidup baru, ini mengacu pada terbentuknya stigma berpikir ala konsumerisme yang dimanjakan oleh kapitalisme gaya hidup itu sendiri. Dimana para plagiarisme merasa seakan pola pikir yang semacam ini merupakan kesepakatan sah dan disahkan oleh masyarakat, sehingga bukannya mereka merasa malu atau pun ‘berdosa’ ketika melakukan plagiat, melainkan bangga karena merasa ikut bagian dari lingkaran kesepakatan tersebut. Dan jelas plagiat merupakan pelanggaran norma- norma yang berlaku dalam masyarakat.

Mungkin dapat dikatakan hampir 50 persen mahasiswa pernah melakukan plagiarisme dengan alasan yang berbeda-beda, dalam penelitian yang dilakukan oleh  kelompok kami  beberapa mahasiswa pernah melakukan plagiat dalam menyelesaikan tugas kuliah, dan dapat kami simpulkan sebab-sebab dilkukannya plagiat oleh kalangan mahasiswa, diantaranya:

1.  Kurangnya pengetahuan tentang aturan penulisan

Kurangnya pengetahuan mereka tentang tata cara penulisan karya ilimiah merupakan suatu penyebab terjadinya plagiarisme atau copy – paste. Referensi yang hanya sebagai penguat gagasannya hendaknya dia mencantumkan sumber referensi tersebut sebagai penghargaan terhadap orisinalitas sebuah karya.

2.    Sanksi belum ditegakkan secara tegas

Dalam hal ini perlu diberlakukan sanksi yang tegas bagi para pelaku Copy paste. hal ini amat diperlukan karena dalam hal proses pendidikan bagi civitas akademis sendiri agar menjauhkan mereka daritindakan tersebut.

3.    Tidak percaya diri

Tidak percaya diri juga menjadi suatu hal yang mendasari seseorang untuk melakukan Copy Paste. Ketidaksiapan seseorang dalam membuat suatu tugaslah yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Oleh karena itu peran serta dari sang dosen untuk memotivasi para mahasiswanya.

4.     Malas

Sifat malas merupakan sifat manusiawi, tak terkecuali bagi mahasiswa. Mahasiswa menjadi jenuh dan malas karena selalu dihadapkan dengan tugas yang menumpuk. Tugas dari berbagai mata kuliah tidak jarang mempunyai deadline yang hampir bersamaan. Hal ini tentu saja membuat mahasiswa kurang optimal mengerjakan tugasnya. Tidak jarang pula mahasiswa mengerjakan tugas dengan jalan pintas. Berdalihkan keterbatasan waktu, mahasiswa melakukan copy – paste atau plagiarisme dari pekerjaan teman ataupun hasil browsing di internet.

5.    Penyalahgunaan teknologi.

Kemajuan tehnologi telah memperkenalkan internet kepada mahasiswa. Di dalam internet inilah mahasiswa mendapatkan kemudahan untuk memperoleh referensi. Seorang mahasiswa yang hendak mencari referensi tinggal mengetik ”kata kunci” dan beberapa saat kemudian referensi – referensi yang di inginkan muncul dalam layar monitor.

IV. PENUTUP

Mahasiswa yang pada dasarnya merupakan subjek atau pelaku di dalam pergerakan pembaharuan atau subjek yang akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa dan membangun bangsa dan tanah air ke arah yang lebih baik dituntut untuk memiliki etika. Etika bagi mahasiswa dapat menjadi alat kontrol di dalam melakukan suatu tindakan. Etika dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan atau dalam melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Oleh karena itu, makna etika harus lebih dipahami kembali dan diaplikasikan di dalam lingkungan mahasiswa.

Copy Paste merupakan sebuah kata yang tidak asing di telinga kalangan mahasiswa. Bagaimana tidak, kegiatan ini sudah lama digeluti bahkan beberapa pihak menganggap bahwa kegiatan ini sebenarnya telah mengakar dikalangan civitas akademis. Sebenarnya Copy paste sendiri ialah merupakan sebuah kegiatan dimana seorang mahasiswa menyalin tugas dari salah seorang temannya. Dalam massa kini banyak mahasiswa yang sering mempraktekkan hal tersebut. Copy Paste sendiri merupakan bagian dari plagiat. Dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, karya ilmiah, mahasiswa tentu saja membutuhkan beberapa referensi baik dari buku, koran, maupun dari internet. Referensi – referensi ini seharusnya dijadikan sebagai materi pelengkap ataupun sebagai keterangan tambahan yang digunakan untuk memperkuat gagasan yang dibuat oleh mahasiswa. Tetapi entah mengapa, disadari atau tidak mahasiswa seringkali menggunakan refernsi tersebut sebagai isi dari makalahnya tanpa mencantumkan sumber kutipannya. Tindakan inilah yang disebut sebagai plagiat.

Istilah plagiat muncul karena adanya usaha pengakuan karya orang menjadi karyanya sendiri (plagiator). Pernyataan ini sesuai dengan pengertian plagiat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. ”Plagiat ialah pengambilan karangan orang lain dan menjadikannya seolah – olah karangan sendiri. Plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta.” Senada dengan pengertian plagiat dan plagiarisme yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Praktik copy paste di dunia pendidikan merupakan sebuah hal yang akan menodai citra dari dunia pendidikan, hal ini disebabkan karena minimnya pengalaman dari mahasiswa itu sendiri dalam  membuat tugas ,baik itu tugas mandiri maupun tugas terstruktur.

Copy Paste atau plagiat merupakan  hal yang sulit untuk diberantas, namun dalam hal ini kegiatan tersebut dapat di tekan dengan berbagai upaya diantaranya dengan pemberian sanksi yang tegas bagi para pelaku copas (istilah copy paste) atau plagiat, dan penanaman minat kepada setiap mahasiswa untuk membaca buku atau sumber-sumber referensi lainnya. Sebagai seorang praktisi akademis ia berharap copas seharusnya dihilangkan, jangan sampai mengakar, khususnya pada mahasiswa yang jabatannya sebagai akademisi.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Martha, Aroma Elmina, Modul Kriminologi, FH UII, Yogyakarta, 2003.

Mustafa, Muhammad, Kriminologi, FISIP UI PRESS, Depok, 2007.

Soekanto, Soerkono, Kriminologi suatu pengantar, Balai Aksara, Jakarta, 1981.

Sahetapy, Teori Kriminologi Suatu Pengantar, Citra Aditya, Bandung, 1992.

Www. Google. com


[1] http://www.anakui.com/tag/akademis/, Di akses pada 4 Desember 2010, 09.00 (WIB)

[2] http://www.sunan-ampel.ac.id/ plagiat/, Di akses pada 4 Desember 2010, 09.00 WIB)

[3] W.A Bonger, Pengantar tentang kriminologi, diterjemahkan olah R.A Koesnon, Pustaka Sarjana, Jakarta, 1977, dalam Soerkono Soekanto, et.al,. Kriminologi suatu pengantar, Balai Aksara, Jakarta, 1981. Hlm. 8

[4] Aroma Elmina Martha, Modul Kriminologi FH UII, Yogyakarta, 2003, hlm, 38.

[5] Muhammad Mustafa, Kriminologi, FISIP UI PRESS, Depok, 2007, hlm, 2.

[6] www.manshurzikri.wordpress.com, Diakses tgl 14 Desember 2010, jam 21.17 WIB

[8] http://sihombingruben.blogspot.com/2010/03/definisi-karya-ilmiah.html Diakses tanggal 12 Desember 2010

Pukul 11.00

[9] Kamus Besar Bahasa Indonesia

[10] S. Sardy, Penulisan Karya Ilmiyah dan Etika Riset, www.google.com (Di akses pada 18 Desember 2010, 20.00 WIB)

[11] Romli. Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Ctk. Pertama, PT Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 41.

[12] Williams III, Frank P. & McShane, Marliyn, 1988, Criminological Theory, New Jersey: Prentice-Hall, dalam Romli. Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Ctk. Pertama, PT Refika Aditama, Bandung, 2005, hlm. 41.

[13] Aroma. Elmina Martha, Kriminologi Modul pada Mata Kuliah Kriminologi pada Fakultas Hukum Univertas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2003, hlm. 47-48.

[14] Ibid. Hlm 42-43.

[15] Romi. Atmasasmita, Op. Cit, hlm. 43

[16] Sahetapy, Teori Kriminologi Suatu Pengantar, Citra Aditya, Bandung, 1992, hlm. 21-22, dalam Aroma. Elmina Martha, Kriminologi Modul pada Mata Kuliah Kriminologi pada Fakultas Hukum Univertas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2003, hlm. 48-49.

Published in: on February 13, 2011 at 00:13  Comments (3)  

The URI to TrackBack this entry is: https://richohandoko.wordpress.com/2011/02/13/plagiarism/trackback/

RSS feed for comments on this post.

3 CommentsLeave a comment

  1. Penelitian di kampus Fakultas Hukum UII..

  2. waduh, g jadi deh copy paste nya hehehe

    • Ga masalah copy paste asal ada footnote nya,, jadi ga asal copy paste,, menulis karya sendiri lebih baik untuk mengmbangkan pemahaman kita terhadap apa yang kita pelajari,, thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: