Jinayat

JARIMAH

Oleh : Richo Handoko P

Jarimah berasal dari bahasa Arab جريمة yang berarti perbuatan dosa dan atau tindak pidana. Dalam terminologi hukum Islam, jarimah diartikan sebagai perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh menurut syara dan ditentukan hukumannya oleh Tuhan, baik dalam bentuk sanksi-sanksi yang sudah jelas ketentuannya (had) maupun sanksi-sanksi yang belum jelas ketentuannya oleh Tuhan (ta’zir).


1. Zina

Zina adalah perbuatan persetubuhan yang tidak sah, Ulama Hanafi merumuskan delik perzinaan….

dengan persetubuhan : yaitu melenyapkan kepala kemaluan laki-laki atau lebih dari orang mukallaf kedalam kemaluan perempuan bukan karena syubhat diluar perkawinan yang sah. Menurut Kamus Islam zina artinya hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan di luar perkawinan; tindakan pelacuran atau melacur, Artinya menurut saya “Zina adalah Persetubuhan yang dilakukan oleh bukan suami istri. Melakukan hubungan badan tanpa perkawinan yang sah,

Sangat dilarang oleh Allah karena Zina merupakan perbuatan amoral, munkar dan berakibat sangat buruk bagi pelaku dan masyarakat, sehingga Allah mengingatkan agar hambanya terhindar dari perzinahan :

QS. Al isro’ :32.

“dan janganlah kamu dekat-dekat zina, karena sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang jahat”.

Menarik, kalau kita perhatikan larangan-larangan dalam Al Quran. Kalau Al Quran berkata “Jangan lakukan ini”, seperti dalam Surat Al-Israa (17) ayat 33 : “jangan membunuh”, dan Surat Al-Hujurat (49) ayat 11 : “jangan satu kaum menghina kaum yang lain”. Tapi ketika berbicara tentang zina, Quran tidak katakan, “jangan berzina”, tapi mengatakan dalam QS. Al-Israa (17) ayat 32 : “Jangan mendekati berzina”. Jadi Hemat saya Dekati saja tidak boleh, apalagi berzina. Jadi, contoh, tangan dari orang yang belum sah yang mencoba untuk meraba lawan jenisnya, itu mulanya seperti itu. Itu sudah merupakan maksud yang buruk.

Kalau di dalam Al Quran, sanksinya pezina laki-laki dan perempuan adalah cambuk mereka 100 kali. Jelasnya di dalam QS. An-Nuur (24) ayat 2 : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.“

Tentang pembuktian perzinaan itu tidak mudah. Harus ada 4 orang yang melihat. Ini sangat sulit. Dan lagi harus lihat betul-betul melihat ‘pedang masuk ke dalam sarungnya’. Kalau cuman 3 yang melapor, kurang satu, maka 3 orang itu yang dicambuk. Disisi lain, agama melarang kita mendekati tempat-tempat yang buruk. Jadi bagaimana bisa membuktikan perzinaan ? selain saksi ada juga  pembuktian tentang perzinaan itu lahir dari pengakuan dan sumpah.

2. Qodzaf (Menuduh Zina)

Menurut bahasa qodzaf berarti melempar, sedangkan menurut istilah ialah menuduh orang baik-baik berbuat zina secara terang-terangan. Para ulama sepakat bahwa pelaku delik qodzaf yang diterapi hukuman ini haruslah orang mukalaf, juga harus ikhtiar artinya tidak terpaksa. Hal ini dilarang karena sama saja dengan memfitnah, pepatah juga mengatakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” artinya perbuatan ini sangat merugikan orang lain terutama mencemarkan nama baik seseorang. Hemat saya qodzaf adalah menuduh orang berbuat zina padahal pelapor belum atau tidak melihat dengan mata sendiri orang yang akan dituduh berbuat.

Perbuatan qodzaf sebagai delik terdapat ketentuan di dalam al-quran an-nur : 4 sebagai berikut :

“Orang yang menuduh wanita-wanita baik (muhsin) berbuat zina, kemudian meraka tidak dapat menghadirkan 4 orang saksi, maka deralah mereka 80 x deraan, dan jangan kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya karena itu adalah orang-orang fasik”.

Ketentuan hukumannya jelas tertulis dalam al-quran yaitu 80 x deraan.

3. Sariqoh (Pencurian)

Sariqah (pencurian) secara bahasa adalah mengambil harta orang lain dengan sembunyi-sembunyi dari tempat yg semestinya. pengambilan harta selain pada definisi sariqoh di atas tidak terkategorikan sariqoh, misal mengambil uang yg berserakan di jalanan umum, mengambil jam tangan atau dompet yg tertinggal olh pemiliknya di kamar mandi umum atau tempat wudhu, mengambil harta secara paksa pada pemiliknya/ merampok, menjambret, memeras, korupsi, semua itu tidak memenuhi kriteria sariqoh yg kemudian pelakunya tidak dijatuhi hadd sariqoh betapapun harta yg diambilnya mencapai nishabnya.

Allah menjaga harta dengan cara mewajibkan potong tangan bagi pencuri, karena tangan yang hianat kedudukannya sama dengan anggota tubuh berpenyakit yang mewajibkan pemotongannya demi untuk menyelamatkan tubuh, dalam pemotongan tangan pencuri terdapat pelajaran bagi dia yang berfikiran untuk mencuri harta orang lain, sebagai pembersih dosa pencuri dan juga sebagai penegak bagi landasan keamanan dalam masyarakat dan penjagaan terhadap harta milik umat.

Allah berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (38) Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Maaidah: 38-39).

Pembuktian tindak pidana Sariqoh ada dua: Pengakuan Pelaku, dan Persaksian Dua Saksi.

4. Asyribah (Minum yang memabukkan)

Minum-minuman keras adalah minuman yang bisa membuat mabuk apapun asalnya.Arak dan sebagiannya, hukumanya haram dan merupakan sebagian dosa besar karena menghilangkan akal adalah suatu larangan yang keras sekali.

Perbedaan Antara Khamar Dan Mabuk :

Khamar adalah yang diharamkan minumannya, baik sedikit maupun banyak, dan keharamannya terletak pada dzatnya. Mabuk keharamannya tidak terletak pada minuman itu sendiri (dzatnya), tetapi pada minuman terakhir yang menyebabkan mabuk. Unsur-unsur yang menjadikan perbuatan ini sebagai jarimah adalah minum-minuman yang memabukan itu sendiri dan kesengajaan melakukannya.

Sanksi Hukum jarimah ini diterapkan dalam Alqur’an:Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Q.S.AL-maidah:90).

Para pelaku sudah dihukum sejak minumnya, tampa menunggu mabuk atau tidak, ditempat srpi atau keramaian umu, merugikan orang lain atau tidak. Minum sesuatu yang memabukan sudah sudah dianggap sebagai pelanggaran karena bertentangan dengan ahklak krimah, apalagi kalau menyebabkan perbuatan negatif bagi yang lainnya. minuman keras dapat merusak akal, sedangkan akal itu sendiri sebagai mengandali ahklak. Bila akal rusak, fungsi pengandalian menjadi rusak pula. Dengan demikian, pemberi hukum bagi pelaku mabuk-mabukan itu merupakan upaya menjaga kesehatan akal.

5. Khirobah (Penyamun)

Hirabah berasal dari kata ‘harb’ (peperangan). Para ‘ulama sepakat bahwa tindakan hirabah termasuk dosa besar yang layak dikenai sanksi hadd.

Hemat saya khirobah dalam dunia modern saat ini termasuk juga dalam hirabah, adalah kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh sindikat, mafia, triad,dan lain-lain. Misalnya, sindikat pencurian anak, mafia perampok bank dan rumah-rumah, sindikat para pembunuh pembayaran, tawuran massal, dan lain-lain.

Hukum hirabah dibunuh, disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan, atau dibuang dari negerinya. Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah SWT:

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi, tidak lain mereka itu dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya); yang demikian itu adalah sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia. Dan di akherat mereka memperoleh siksaan yang berat.” (Qs. al-Maa’idah [5]: 33).

Atas dasar itu, hukuman bagi orang yang melakukan tindak hirabah adalah (1) dibunuh, (2) disalib, (3) dipotong tangan dan kakinya bersilangan, (4) dibuang dari negeri tempat kediamannya (deportasi). ‘Ulama berbeda pendapat mengenai mengenai pengertian lafadz ‘au’ (atau) pada ayat itu. Apakah kata ‘au’ pada ayat di atas bermakna takhyiir (pilihan), atau tanwi’ (perincian). Pendapat yang menyatakan, bahwa “au” pada ayat tersebut adalah takhyiir, didasarkan pada argumentasi, “Bahwa secara bahasa huruf au (pada ayat tersebut) berfaedah pada takhyiir, sebab, mereka tidak menjumpai nash-nash lain yang merincinya.” Pendapat ini diikuti oleh Abu Tsaur, Malik, Said bin Musayyab, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Muhajid, al-Dlahak, dan Nakha’iy. Berdasarkan penafsiran ini, seorang hakim bisa memilih salah sanksi, dari empat sanksi itu bagi muharibiin.

6. Riddah (Murtad)

Secara bahasa: Arraddatu (riddah) artinya Ar-ruju’u (kembali) Menurut istilah: kufur setelah Islam. Ada beberapa definisi :

al-Kasani dari mazhab Hanafi berkata, “Adapun rukun Riddah adalah keluarnya perkataan ‘kafir’ dari lisan, yang sebelumnya beriman, sebab Riddah adalah rujuk (berpaling) dari keimanan.”
Ash-Shawi dari mazhab Maliki berkata, “Riddah adalah kafirnya seorang Muslim dengan perkataan yang terang-terangan, atau perkataan yang menuntut kekafirannya, atau perbuatan yang mengandung kekafiran.”

As-Syarbini dari mazhab Syafi’i berkata, “Riddah adalah putus dari Islam dengan niat atau perbuatan, baik mengatakan tentangnya dalam rangka menghina, membangkang ataupun meyakini.”  Al-Bahuti dari mazhab Hanbali berkata, “Murtad secara syariat adalah orang yang kafir setelah keislamannya, baik melalui perkataan, keyakinan, keraguan atau pun perbuatan.”

Hemat saya , Riddah adalah berpaling dari Islam, baik dengan keyakinan, perkataan ataupun perbuatan. Artinya, definisi ini sesuai dengan definisi iman, yaitu keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan dan perbuatan.

(QS Al-Baqarah (2): 217)

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi dari jalan Allah, kafir kepada Allah, Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka mengembalikan kamu dari agamamu , seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

7. Baghyu (Pemberontak)

Menurut bahasa al-Baghyu adalah memilih sesuatu. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

Artinya: Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari” (Q.S. al-Kahfi: 64)

Selain itu, kata al-Baghyu menurut ‘urf adalah minta sesuatu yang tidak halal atau melanggar hak. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah:

“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbautan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar. (Q.S. al-A’raf: 33)

Tiada kesepakatan dikalangan ulama tentang definisi al-baghyu. Ulama Hanafiyah, misalnya, mengartikannya sebagai keluarnya seseorang dari ketaatan kepada Imam yang sah tanpa alasan.

Ulama Syafi’iyah berkata: “pemberontakan adalah orang-orang muslim yang menyalahi imam atau pemimpin dengan cara tidak mentaatinya dan melepaskan diri darinya atau menolak kewajiban dengan memiliki kekuatan,memiliki argumentasi dan memiliki pemimpin.
Faktor penyebab perbedaan mereka dalam mendefinisikan al-baghyu adalah perbedaan mereka dalam menentukan syarat-syarat dan bukan perbedaan dalam unsur yang prinsip.

Dasar hukumnya telah ditegaskan oleh al-Qur’an dan hadits. Allah SWT. berfirman:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat aniaya terhadap terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehinga golongan itu kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah natara keduanya dengan adil dan berlaku adilah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya oranmg-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. al-Hujarat: 9-10).

Dan di dalam ayat lain Allah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul-nya dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tetang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih naik baginya. (Q.S. sn-Nisa’: 59).

Published in: on February 13, 2011 at 01:45  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://richohandoko.wordpress.com/2011/02/13/jinayat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. wah, lengkap banget thank bro.. atas artikelnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: